Sunday, 16 December 2012

Bukan Urusan Nanti Tapi Sekarang

Mengapa pikiran duniawi sangat sulit menerima kebenaran Injil yang murni? Sebab kebenaran Injil yang murni memuat maksud utama kedatangan Tuhan Yesus, bertentangan dengan naluri kemanusiaan. Naluri kemanusiaan adalah menjadikan dunia ini sebagai Firdaus, taman yang nyaman. Tetapi Kekristenan mengajarkan bahwa dunia ini adalah medan pertempuran bukan firdaus. Firdausnya orang percaya ada di langit baru dan bumi yang baru. Memang hal ini dipandang oleh banyak orang sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak menyenangkan dan terkesan tidak meyakinkan. Mereka berpendirian bahwa urusan di seberang kubur adalah urusan nanti bukan urusan sekarang. Kekristenan menegaskan bahwa justru itu urusan hari ini, bukan urusan nanti. Tuhan menyatakan bahwa sekarang adalah saatnya mengumpulkan harta di Sorga atau bekerja untuk roti yang tidak binasa (Mat. 6:19-20; Yoh. 6: 27-29). Selagi hari siang harus bekerja untuk roti yang tidak dapat binasa, sebab akan datang malam, dimana tidak seorang pun dapat bekerja.

Pengkhotbah 12:1-2 menyatakan umat Tuhan harus mengingat atau berurusan dengan Sang Pencipta sejak masa muda artinya sejak dini. Sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang dikatakan tidak ada kesenangan di dalamnya. Dalam hal ini harus mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera dalam hidup ini (Luk. 19:42). Yudas salah satu contohnya. Ia tidak mengerti visi utama kedatangan Tuhan Yesus. Ia sibuk dengan apa yang dipandangnya perlu untuk damai sejahteranya, sehingga ia berkhianat dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan. Juga sebagian besar orang Yahudi menolak Tuhan Yesus karena keinginan dan ambisi mereka yang berseberangan dengan-Nya. Kebenaran Injil akan mencelikkan mata pengertian untuk mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera hidup. Pada mulanya murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Tetapi kesetiaan dan ketekunan mereka bersama dengan Tuhan akhirnya membuat mereka mengerti kebenaran dan kebenaran itu memerdekakan mereka (Yoh. 8:31-32). Dalam hal ini ketekunan sangat penting. Seperti ketekunan petani yang menggarap ladang sehingga ia menemukan harta yang terpendam di ladang. Harta itu ditemukan di dalam tanah bukan di atas tanah, oleh sebab itu harus tekun berladang dahulu baru menemukan harta tersebut. Sama seperti pedagang yang tekun berjalan keliling sampai menemukan mutiara yang sangat berharga. Mutiara itu tidak ditemukan secara kebetulan, tetapi harus dicari (Mat. 13:44-46). Kesempatan untuk “menemukan” adalah kesempatan mahal yang tidak akan terulang selamanya.

Hidup setelah kubur ditentukan oleh keputusan-keputusan kita hari ini, bukan nanti.

Wednesday, 12 December 2012

Memiliki Kehidupan Seperti Guru Agung

Murid-murid Tuhan Yesus berhasil keluar dari hidup keberagamaan yang menekankan hukum (torat) dan ritual agama, masuk ke dalam penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Ternyata yang penting dalam mengikut Tuhan Yesus bukanlah kemakmuran lahiriah, tetapi memiliki kehidupan seperti “Guru Agung” dari Nazaret. Itulah sebabnya yang harus digumuli adalah “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” (Kis. 2:41-42). Rasul-rasul adalah murid-murid Tuhan Yesus yang menjadi nara sumber utama pengajaran Tuhan Yesus. Ketekunan mereka mempelajari apa yang diajarkan Tuhan Yesus melalui rasul-rasul membuahkan kehidupan seperti Tuhan Yesus yang akhirnya berbuah panggilan Kristen (Kis. 11:26). Kristen artinya seperti Kristus. Perubahan dari hidup keberagamaan Yahudi beralih berkelakuan seperti Kristus inilah yang disebut sebagai hidup baru. Hal ini tanda dari seseorang yang mengalami kelahiran baru. Pada kenyataannya banyak orang seperti murid-murid Tuhan Yesus sebelum mengerti maksud utama kedatangan Tuhan Yesus. Mereka mengikut Tuhan Yesus dengan berbagai motivasi, diantaranya adalah kemakmuran duniawi. Jika keadaan ini tidak diubah berarti mereka masih kerasukan iblis (Mat. 19:21-23). Mereka mencari Tuhan Yesus karena “makan roti” atau berkat jasmani, bukan karena melihat tanda atau petunjuk arah (Yoh. 6:26). Melihat tanda artinya memahami maksud utama kedatangan Tuhan atau mengerti kemana arah hidup sebagai pengikut-Nya. Betapa tidak mudahnya mencelikkan mata pengertian orang untuk melihat tanda tersebut. Mereka yang sudah diajar dengan benar selama bertahun-tahun saja, nyaris tidak melihat tanda itu apalagi yang tidak diajar mengenal kebenaran. Mereka pasti tidak pernah melihat tanda tersebut, sehingga salah memahami maksud kedatangan Tuhan Yesus.

Dewasa ini banyak pemalsuan ajaran. Mereka mengajarkan suatu pengajaran yang diklaim sebagai ajaran Alkitab atau Firman Tuhan tetapi sebenarnya mereka memalsukan Firman Tuhan (Gal. 1:6-10; 2.Kor. 11:2-4). Pemalsuan tersebut membutakan pengertian banyak orang sehingga mereka tidak pernah diselamatkan. Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak selamat (dikembalikan kepada rancangan semula). Dalam hal ini kita mengerti betapa besar kemarahan Paulus terhadap penyesat-penyesat tersebut sehingga Paulus menjuluki mereka sebagai “anjing” (Yun, Koo-ohn, κύων) (Flp. 3:2). Bahkan Paulus juga menyampaikan seruan “terkutuk” bagi orang yang memalsukan Injil (Gal. 1:6-10). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memahami maksud utama kedatangan Tuhan Yesus. Oleh karena itu, kepada orang percaya harus diajarkan kebenaran Injil yang orisinil.

Janganlah tertipu oleh Injil yang diplesetkan oleh pengajar palsu, Kristen berarti hidup seperti Kristus, bukan hidup berkelimpahan berkat jasmani.

Tuesday, 11 December 2012

Karena Mengingini Perubahan Nasib

Betapa sulitnya Tuhan Yesus mencari pengikut dan betapa sulitnya menjadi pengikut Tuhan Yesus pada waktu itu. Tuhan Yesus hadir dalam masyarakat Yahudi yang sangat fanatik terhadap agamanya. Masyarakat pada waktu itu adalah orang-orang Yahudi yang sudah terbiasa dengan sistim keberagamaan yang ketat. Selain itu apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah hal-hal yang sangat bertentangan dengan apa yang diyakini dan dipahami oleh masyarakat Yahudi. Namun demikian masih saja ada orang yang mau mengikut Tuhan Yesus dan meninggalkan segala sesuatu (Mat. 19:27). Mengapa mereka begitu bersemangat mengikut Tuhan Yesus? Jawaban yang paling jujur dan logis adalah bahwa mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik dari apa yang mereka telah miliki selama itu.

Murid-murid Tuhan Yesus seperti sebagian besar masyarakat Yahudi menginginkan kemerdekaan dari kekuasaan bangsa asing yang mencengkeram mereka sehingga dapat memperoleh kemakmuran dan kenyamanan hidup. Mereka merindukan suatu kerajaan yang megah dan jaya seperti jaman raja Daud dan Salomo. Itulah yang ada di benak pikiran murid-murid-Nya. Hal ini terbukti dalam berbagai percakapan. Seperti misalnya Petrus yang menghalangi Tuhan Yesus ke Yerusalem, mereka tidak menginginkan Tuhan Yesus mati konyol (Mat. 16:21-23) dan Petrus membawa pedang untuk membela Tuhan Yesus. Anak-anak Zebedius yang menginginkan kedudukan dalam kerajaan Tuhan Yesus (Mat. 20:20-22). Mereka mengikut Tuhan Yesus karena mereka menyaksikan bahwa “guru dari Nazaret” ini hebat. Perhatikan, bagaimana Petrus meninggalkan jalanya dengan serombongan yang lain kerena melihat mujizat, yaitu Tuhan Yesus membuat mereka bisa mendapat ikan dalam jumlah besar dalam sekejap (Luk. 5:1-11). Tidak heran kalau mereka berani meninggalkan segala sesuatu dan menaruh pengharapan mereka kepada sosok yang hebat tersebut. Klimaksnya adalah ketika murid-murid Tuhan Yesus mempertanyakan bilamana Tuhan Yesus akan memulihkan Kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6-8). Jadi, selama itu mereka mengikut Tuhan Yesus dengan pengertian yang dangkal, sempit bahkan salah. Tetapi Tuhan memaklumi kebodohan mereka tersebut. Sampai suatu saat mata pengertian mereka dibuka sehingga mereka memahami maksud utama kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia. Perjalanan dari tidak mengerti sampai mengerti ini tidak singkat dan mudah. Tuhan mengajar mereka selama tiga setengah tahun siang dan malam. Rasanya mustahil untuk bisa mengikut Tuhan Yesus sesuai dengan maksud tujuan Ia datang ke dunia. Tetapi bagi manusia memang mustahil tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Masih ada yang mengikut Tuhan Yesus demi perbaikan nasib, padahal fokus yang benar adalah Langit Baru dan Bumi Baru.

Hidup Baru Yang Sejati

Keagungan hidup kekristenan bukan karena menjadi aktivis atau menjadi pendeta, tetapi senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh ini, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh ini (2 Kor. 4:10). Inilah yang Paulus maksudkan dengan “persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Apa maksud pernyataan Paulus ini? Untuk menjawabnya perlulah kita memeriksa secara teliti seluruh perikop di dalam 2 Korintus 4. Perikop ini berbicara mengenai perjuangan Paulus dalam pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadanya (2 Kor. 4:1). Hidup Paulus sepenuhnya merupakan perjuangan untuk pekerjaan Tuhan. Pengorbanannya adalah dari harta, jiwa sampai penderitaan fisik. Hal itu akan membentuk gaya hidup yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Ini adalah profil dari seorang yang telah kehilangan hidup, tetapi memperoleh hidup yang baru. Gaya hidup seperti ini jika terus dikembangkan terus sampai pada kualitas hidup “hidupku bukan aku lagi”, tetapi Kristus yang hidup didalam aku (Gal. 2:19-20).

Ini juga yang dimaksud dalam Kolose 3:1-4, bahwa orang percaya sudah mati, hidupnya tersembunyi bersama dengan kristus di dalam Allah. Sampai pada level ini seseorang dapat disebut sebagai “hidup baru” di dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang pantas disebut sebagai pengikut Kristus dan layak disebut sebagai “Kristen” yang artinya seperti Kristus. Sesuai dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:10, yaitu supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Dengan demikian seseorang barulah menjadi saksi yang efektif yang dapat membuktikan bahwa Tuhan Yesus bukan tokoh dongeng, bahwa Dia adalah Anak Allah yang mati dan bangkit, hidup dan berkuasa yang suatu hari akan tampil sebagai Raja. Kehidupan seperti inilah yang dirindukan oleh Allah Bapa sehingga seseorang pantas mendapat sertifikat yang berbunyi: Inilah anak-Ku yang Ku-kasihi kepadanya Aku berkenan. Dalam hal ini proses keselamatan harus terselenggara dengan baik. Pengalaman ini tidak akan dialami oleh orang yang tidak mengalami kelahiran baru. Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup bangsawan Sorgawi yang bisa diajak menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu saja hanya orang-orang seperti ini yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:17). Untuk mencapai level ini seseorang harus berjuang dengan keras tanpa batas. Tidak mungkin dapat dialami secara otomatis. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing individu. Tuhan memberikan fasilitas keselamatan, tergantung masing-masing orang apakah mau memanfaatkannya.

Kristen sejati adalah jika kualitas hidupnya sudah mencapai “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup dialam aku.”

Sunday, 9 December 2012

Kehilangan Hidup

Sebenarnya untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati itu sangat sulit, bahkan nyaris mustahil untuk dilakukan, sebab mengikut Tuhan Yesus berarti mengikut jejak-Nya; hidup seperti Dia hidup. Kalau hanya menjadi pengikut yang ikut-ikutan, nyaris tidak ada harga yang harus dibayar, malah merasa memiliki hak untuk dibayar. Seperti yang terjadi dewasa ini di banyak komunitas Kristen, diajarkan bahwa mengikut Tuhan Yesus otomatis akan menerima berkat jasmani atas kesehatan, usaha, pekerjaan, studi anak-anak dan lain sebagainya. Bila mati otomatis pasti masuk sorga. Pengajaran ini membentuk motivasi orang mencari Tuhan karena “roti”. Hal ini dilegalkan oleh banyak pembicara yang tidak mengenal nafas Injil yang sejati. Ingat nafas Injil yang sejati adalah ”melihat tanda” bukan makan roti sehingga kenyang” (Yoh. 6:26). Kata tanda dalam teks aslinya adalah semeion (σημεῖον) yang berarti petunjuk arah. Melihat tanda artinya menemukan kemana arah yang dimaksud oleh Tuhan agar manusia mengarahkan diri. Tentu saja arah yang dimaksud adalah Tuhan sendiri dan Kerajaan-Nya. Untuk itu seseorang harus melepaskan segala sesuatu agar perjalanan menuju arah tersebut tidak terhambat.

Penyesatan yang terjadi adalah praktek yang dilakukan beberapa gereja melalui pembicaranya yang mengesahkan bahwa orang Kristen yang ke gereja sudah berarti menjadi milik Allah (Gal. 5:24-25). Pada hal banyak mereka yang masih dalam status memiliki dirinya sendiri. Harus dipahami hukumnya kekristenan, bahwa seseorang tidak akan beroleh nyawa kalau tidak kehilangan nyawa, tidak akan hidup kalau belum mati, tidak akan dimiliki Allah sebelum melepaskan hak miliknya diserahkan kepada Allah sendiri. Kesediaannya terhadap hal ini ditandai dengan memberi diri dibaptis. Dengan demikian baptisannya benar-benar lambang kematiannya (Rm. 6:4). Perjamuan kudus pun menjadi lambang persekutuan dalam penderitaan-Nya. Inilah nilai orisinil kekristenan yang sekarang ini telah berubah menjadi sakramen-sakramen kosong yang tidak mengandung nilai orisinil Injil. Kekristenan yang benar akan mengajarkan bahwa menjadi pengikut Kristus akan kehilangan hidup. Berarti rela kehilangan kesenangan-kesenangan yang sebelumnya menciptakan kebahagiaan, kebanggaan, dan kesejahteraannya. Dengan melepaskan kesenangan lama akan memperoleh kesenangan baru. Yang paling sulit adalah ketika seseorang harus menanggalkan karakter yang sudah mendarah daging di dalam dirinya dan belajar terus untuk berperilaku seperti Tuhan Yesus dalam kasih, kesabaran, kejujuran, ketulusan dan lain sebagainya. Untuk hal ini seseorang harus berjuang dengan segala pengorbanan untuk bisa meraihnya.

Kekristenan yang benar akan mendidik seseorang menjadi pengikut Kristus, yaitu kehilangan hidup, tidak tertarik dengan dunia dan keindahannya.

Satu-satunya Dunia

Sebenarnya gelora jiwa yang memuat kesediaan sepenuhnya hidup bagi Tuhan seperti yang rasul Paulus miliki juga harus kita kenakan (Flp. 1:21). Ternyata penganut agama lain ada juga yang memiliki prinsip sama seperti ini hanya obyek allahnya berbeda. Mereka menjadikan agama yang mereka yakini sebagai satu-satunya dunia yang mereka miliki. Itulah sebabnya mereka berani mengorbankan apa pun demi kepercayaan-Nya. Mereka bisa memiliki irama hidup mirip Paulus, yaitu baik makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, mereka lakukan demi allah yang mereka percaya (1Kor. 10:31). Setiap hari mereka ada di rumah ibadahnya tanpa menghitung waktu. Tidak jarang mereka yang tidur di rumah ibadahnya walaupun sebenarnya mereka memiliki rumah sendiri. Harta dan nyawa menjadi tidak bernilai demi membela allah yang mereka percayai sebagai satu-satunya allah yang benar. Bahkan keluarga pun bisa ditinggalkan demi membela allahnya. Begitu fanatiknya sampai pada keyakinan bahwa membunuh umat yang beragama lain bisa dipahalai. Mereka pun juga memiliki pengharapan memiliki dunia lain yang lebih baik, yang dipahami sebagai sorga. Dengan demikian mereka mengarahkan hidup mereka tidak tanggung-tanggung ke dunia di balik kubur yang mereka yakini lebih baik. Bagi mereka kematian tidaklah sesuatu yang menakutkan, bahkan kalau demi kepentingan allah yang mereka yakini memberi pahala, kematian adalah keindahan dan kebanggaan. Betapa malangnya kalau seandainya suatu hari nanti ternyata allah yang mereka bela, yang membuat hidup mereka terampas adalah allah yang keliru. Mereka tidak akan menemukan sorga yang mereka impikan.

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai orang percaya. Ironinya, banyak orang Kristen yang memiliki satu-satunya Allah yang benar dan Tuhan Yesus yang diutus-Nya (Yoh. 17:3), tetapi tidak memiliki kualitas keberimanan yang baik. Menjadi Kristen pun hanya karena hendak memperoleh kenyamanan hidup di dunia. Betapa kontrasnya. Lebih banyak komunitas Kristen yang mengajarkan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah yang benar akan memperoleh jaminan pemeliharaan di dunia ini dengan limpahnya, dan bila mati akan masuk Sorga. Ajaran yang keliru ini tentu diminati oleh kebanyakan orang. Semboyannya adalah bahwa Allah itu baik dan berkuasa. Mereka hanya mau menikmati berkat jasmani. Pada hal mengikut Tuhan Yesus berarti “dikubur bersama dengan Tuhan Yesus” (Rm. 6:4; Kol 3:1-4). Dunia bukan lagi rumahnya, tidak ada lagi yang boleh menjadi kesukaan dan tujuan hidup selain Tuhan dan kerajaan-Nya. Prestasi kehidupan yang harus dicapai adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Orang yang percayanya benar pasti memiliki hanya satu dunia, yaitu Tuhan. Segala sesuatu yang ia lakukan pasti untuk kepentingan Tuhan saja.

Thursday, 6 December 2012

Mengasihi Tuhan Bukan Karena Keadaan

Lebih mudah meninggalkan keindahan dunia karena dipaksa keadaan untuk harus meninggalkannya, yaitu berhubung sudah lanjut usia atau karena suatu penyakit atau kecelakaan parah yang mematikan. Meninggalkan keindahan dunia di sini maksudnya adalah rela mempersembahkan segenap hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Ketika kondisi fisik sudah tidak memungkinkan lagi untuk meraih dan menikmati dunia, maka hanya sikap pasrah untuk menerima saja keadaan yang ada. Tetapi betapa sulitnya kalau harus meninggalkan dunia sementara masih memiliki kesempatan untuk meraih dan menikmati dunia seperti manusia pada umumnya. Ada orang-orang yang karena suatu keadaan dan divonis akan meninggal dunia, dengan bangganya dapat berkata bahwa ia sudah rela meninggalkan dunia ini. Ia dapat mengatakan karena sudah tidak berdaya sama sekali. Ia sudah menjadi seonggok daging yang tidak berguna. Sekarang kondisinya sudah tidak memungkinkan berkarya banyak bagi Tuhan. Dengan menyatakan demikian ia kira bisa menipu Tuhan. Ia mau berlaku licik dan curang. Biasanya kalau orang-orang seperti ini memiliki harta ia tidak akan menyerahkan hartanya bagi pekerjaan Tuhan tetapi mewariskan kepada anak cucu dan keturunannya, pada hal mereka sudah memiliki bagian sendiri dari Tuhan yang harus diperjuangkan untuk diraih. Seandainya ia masih memiliki kesempatan untuk meraih dan menikmati dunia ia belum tentu akan berkata demikian. Kerelaan seperti itu bukanlah kerelaan yang murni dan berkualitas.

Dalam kondisi fisik yang sudah tidak ada artinya ini, bukan saja bagi orang lain juga bagi diri sendiri, ia hanya bisa ke gereja menyanyi lagu rohani dan berdoa. Ia merasa sudah dapat memenuhi kewajibannya sebagai umat pilihan. Ia berpikir sudah dapat mengakhiri hidupnya dengan “cantik” di hadapan Tuhan. Seharusnya mengasihi Tuhan justru pada saat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk meraih dunia bagi diri sendiri, yaitu ketika fisiknya masih kuat. Ia bisa meraih dunia bagi dirinya sendiri tetapi mempersembahkan bagi Tuhan. Ini berarti ia memilih Tuhan. Kalau seseorang memilih Tuhan pada usia senja dimana ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi bagi Tuhan, pada dasarnya adalah orang-orang bodoh, picik dan licik. Kalau sebagai orang Kristen tidak sejak dini serius merubah diri, maka kita pun bisa berkeadaan seperti orang-orang ini. Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak bisa diubah dan tidak mengerti kebenaran secara utuh. Sebelum terlambat, dimana hati belum mengeras, juga selagi masih ada kesempatan, setiap orang percaya harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan memberikan hidupnya untuk diubah terus menerus (Pkh. 12:1).

Tunjukkan kasih kepada Tuhan ketika masih ada kemampuan meraih kenikmatan dunia ini, bukan setelah tidak berdaya apa-apa.