Friday, 16 November 2012

1 Corinthians 16:13

Being taken out of your comfort zone is an opportunity to hear and see things that you normally would miss. When you get too comfortable in your surroundings and in your routine you can take things for granted and get lazy in your discernment. Set yourself to be watchful and pay attention so you won't miss the nuances. The spiritual benefits will far outweigh the discomfort of your present situation, says the Lord.

1 Corinthians 16:13 Watch, stand fast in the faith, be brave, be strong.

Thursday, 15 November 2012

Memiliki Proyeksi Yang Benar

Iblis akan berusaha agar manusia menjadi terlena oleh berbagai kesibukan, kesenangan dan cita-cita. Tujuannya agar manusia tidak memikirkan dengan serius keadaan kekalnya di balik kuburnya nanti. Kalau irama terlena ini tidak segera diubah, maka ia tidak pernah serius “mengumpulkan harta di Sorga”. Dimensi hidup yang dimiliki adalah dimensi hidup sekarang di bumi ini, dimensi hidup hewan yang tidak mengenal kekekalan. Dimensi hidup ini adalah dimensi hidup kefanaan yang telah mengalir dan menetap kuat di dalam setiap jiwa manusia. Mereka memikirkan hal-hal yang dibawah bukan yang di atas (Kol. 3:1-4; Yoh. 3:31). Dengan cara ini, si jahat menggiring banyak manusia ke dalam kegelapan. Harus ada suara keras dan tegas untuk memperingatkan manusia terhadap keadaan krisis ini. Penyesatan yang hebat dewasa ini adalah banyak orang Kristen yang ke gereja bahkan melakukan kesibukan pelayanan gerejani, tetapi masih hidup dalam dimensi hidup kefanaan. Proyeksi mereka masih pada kesenangan dunia hari ini dan di bumi ini, waktu hidupnya dihabiskan untuk berbagai kesibukan yang sia-sia. Tetapi mereka merasa bahwa mereka hidup dalam kewajaran. Memang hidup mereka wajar dalam kacamata manusia yang tidak mengenal anugerah, tetapi bagi manusia yang mengenal anugerah, berarti menyia-nyiakan keselamatan yang disediakan Tuhan.

Orang-orang seperti ini tidak memiliki kemajuan yang berarti dalam pertumbuhan imannya. Mereka tidak pernah menggeserkan hatinya dalam Kerajaan Sorga. Mereka tidak memperhatikan perkataan Tuhan, dimana ada hartamu di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Sejatinya mereka tidak masuk dalam proses keselamatan. Mereka beranggapan kalau sudah masuk dalam kegiatan pelayanan, berbicara hal-hal rohani, menjadi aktivis gereja atau pejabat sinode seperti pendeta, berarti sudah memikirkan perkara-perkara yang di atas. Sayang sekali, mereka orang-orang baik yang tidak pernah menjadi anak-anak Allah, karena standar hidup sebagai anak-anak Allah yang mereka pahami sangat rendah. Mereka tidak memahami bahwa menjadi anak-anak Allah harus berpikir seperti Tuhan Yesus berpikir, tidak cukup hanya membantu Tuhan Yesus dalam pelayanan atau menjadi orang bermoral yang tidak melanggar hukum. Oleh sebab itu mereka tidak berupaya dengan keras mengenal Allah, sebab mereka sudah merasa cukup mengenal Allah. Mereka merasa bahwa pemahaman mereka mengenal Allah sudah cukup, dan bisa membawa mereka kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah. Padahal keberkenanan di hadapan Allah adalah kehidupan dengan standar Tuhan Yesus sendiri.  Suatu level yang harus diperjuangkan dengan hebat.

Proyeksikan hidup kita pada hal-hal yang membawa kita pada kebenaran

Wednesday, 14 November 2012

Nilai Waktu

Berapa nilai waktu seseorang tergantung dari apa yang dilakukan dengan atau di dalam waktu tersebut. Satu menit waktu kita sebenarnya nilainya tidak terhingga, sebab waktu itu berjalan dan tidak penah bisa kembali. Kalau isi kegiatan di dalam waktu tersebut untuk sesuatu yang bernilai kekal dari Allah, maka waktu menjadi berharga, tetapi kalau diisi kegiatan yang tidak menghasilkan kekayaan kekal, maka waktu menjadi tidak berharga sama sekali. Jadi, berapa nilai waktu seseorang tergantung dari masing-masing individu. Mengapa Tuhan mengatakan agar kita menggunakan waktu yang ada? Sebab hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:16). Kata waktu di sini adalah “kairos” (καιρός). Kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai opportunity yang menunjuk pada suatu momentum atau suatu kesempatan. Mahalnya waktu hidup kita adalah adanya kesempatan yang Allah sediakan bagi kita untuk melakukan suatu tindakan guna mengenal Allah Bapa dan kehendak-Nya. Setiap kesempatan memiliki nilai sendiri yang tidak bisa terulang. Pada kenyataannya banyak hal yang dianggap lebih berharga sehingga mengorbankan kesempatan untuk menemukan Tuhan. Seperti misalnya, duduk-duduk di depan layar kaca berjam-jam, jalan ke mall tanpa tujuan, ngobrol dengan teman yang tidak memberi pengaruh yang baik di cafe dan lain sebagainya. Betapa berartinya kalau waktu itu digunakan untuk mendengar Firman Tuhan, membaca buku atau majalah rohani yang baik, berdoa, bersekutu dengan orang-orang yang takut akan Allah akan memberi pengaruh rohani yang baik, datang ke pendalaman Alkitab dan lain sebagainya.

Ingatkah saudara, (khusus bagi yang pernah belajar rajin), betapa mahal waktu yang tersedia untuk belajar guna mencapai suatu nilai yang baik di sekolah. Anak-anak lain bisa bermain-main dengan cerianya, tetapi ada anak-anak yang masuk kamarnya untuk menekuni pelajaran-pelajaran sekolah. Ketika hari kenaikan sekolah, nampaklah wajah ceria anak yang mendapat predikat yang baik dalam prestasi belajarnya, sedangkan yang tidak belajar, menangis tersedu-sedu karena tidak naik kelas. Ini sama dengan yang digambarkan Tuhan Yesus di Lukas 16:19-31, seorang kaya yang setiap hari hidup dalam kemewahaan, pesta pora dan orang yang sibuk dengan berbagai urusan tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan (Luk. 12:16-21). Pada akhirnya mereka terbuang ke dalam kesengsaraan yang hanya dapat digambarkan sebagai ratap tangis dan kertak gigi. Penyesalan seperti ini sudah tidak ada artinya, sebab tidak dapat mengubah keadaan. Kalau penyesalan dialami ketika seseorang masih hidup, maka pasti ada langkah-langkah untuk memperbaiki diri.

Berapa nilai waktu seseorang tergantung dari apa yang dilakukan dengan atau di dalam waktu tersebut.

Tuesday, 13 November 2012

Huntara

Penduduk Yerusalem bisa menjadi gambaran kehidupan orang Kristen hari ini yang tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteranya. Dari kemasan luarnya adalah umat pilihan (seperti bangsa Israel), tetapi cara berpikirnya seperti anak-anak dunia yang bukan umat pilihan. Bagi anak-anak dunia yang perlu untuk damai sejahtera mereka adalah dunia ini dengan segala kesenangannya. Itulah sebabnya pikiran mereka tertuju kepada perkara-perkara dunia. Tetapi anak-anak Tuhan haruslah sangat berbeda. Anak-anak Tuhan harus menganggap dunia adalah huntara (hunian sementara), bukan huntap (hunian tetap). Istilah ini sebenarnya diambil dari peristiwa korban gunung Merapi. Mereka yang menjadi korban erupsi gunung Merapi di tempatkan pemerintah di huntara sebab sekitar gunung Merapi tidak lagi dapat menjadi tempat yang aman untuk dihuni atau tidak bisa menjadi huntap. Sumbatan yang menutupi mulut gunung Merapi sudah terkoyak ketika erupsi, sementara gunung itu masih aktif sampai sekarang. Ini seperti keadaan dunia ini, sejak meterai dibuka oleh Anak Domba Allah (Why. 6-8), maka tidak ada lagi yang bisa menghalangi terjadinya berbagai pergerakan-pergerakan yang akan semakin mengubah sejarah dunia ini (Luk. 10:34).

Sebelum Tuhan Yesus datang, kerajaan dunia dikuasai dan dimiliki oleh iblis (Lusifer yang jatuh). Kedatangan Tuhan Yesus untuk mengakhiri sejarah Lusifer yang jatuh dan dunia ini. Dunia akan dibawa kepada keadaan yang terus bergolak sebelum jaman baru (Mat. 24:8), akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Dalam teks aslinya kata “permulaan penderitaan menjelang zaman baru” terjemahan dari “arkhe odinon” (ἀρχὴὠδίνων). Hal ini menunjuk penderitaan sebelum seorang ibu melahirkan anak (Ing. the pain of childbirth). Tidak akan ada jaman baru sebelum ada goncangan-goncangan. Kedatangan

Tuhan Yesus melegalisir atau mensahkan adanya goncangan tersebut. Betapa konyolnya kalau seorang Kristen berpikir bahwa kedatangan-Nya ke dunia untuk memberi damai sejahtera di bumi menurut cara anak-anak dunia (Luk. 12:49-56). Bumi akan terus digoncang dengan berbagai goncangan yang membuat bumi tidak lagi menjadi hunian yang aman. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak Tuhan mengerti bahwa maksud kedatangan Tuhan Yesus semata-mata hanya untuk mempersiapkan mereka masuk Kerajaan-Nya. Jika seseorang tidak mau mengerti hal ini, berarti menolak keselamatan yang disediakan Tuhan. Hal ini sama seperti istri Lot yang menolak untuk memiliki langkah-langkah penyelamatan sesuai dengan kehendak-Nya.

Bumi ini hanya hunian sementara untuk mempersiapkan hunian tetap kita di kekekalan.

Monday, 12 November 2012

Yang Perlu Untuk Damai Sejahtera

Dalam kitab Perjanjian Baru jarang sekali dicatat mengenai Tuhan Yesus yang menangis. Tetapi ketika Ia melihat Kota Yerusalem, Ia menangis (Luk. 19:41-42). Mengapa Ia menangisi Yerusalem? Sebab Ia melihat bencana yang akan terjadi atas kota itu oleh karena sikap mereka yang tidak mau mengerti kehendak Allah Bapa. Hal ini menunjukkan kecintaan Tuhan yang sangat mendalam terhadap umat pilihan-Nya. Namun, betapa pun besar kasih Tuhan kepada umat-Nya, Tuhan tidak bisa menghindarkan mereka dari bencana, ketika mereka tidak mau bertobat dan mengerti kehendak-Nya. Dalam hal ini bukan karena Tuhan tidak mampu menolong menghindarkannya dari bencana, tetapi Ia tidak bisa melakukannya berhubung hal itu melanggar prinsip keadilan di dalam diri-Nya. Tuhan telah memberi pilihan bebas kepada masing-masing individu. Konsekuensi dari kehendak untuk memilih ini tidak bisa dibatalkan oleh Tuhan. Kemudian Tuhan menyampaikan suatu pernyataan: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu”. Satu hal yang ironi sekali, pernyataan Tuhan ini ditujukan kepada penduduk Yerusalem yang menyambut kehadiran Tuhan dengan sangat meriah di kota mereka (Mat. 21; Yoh. 12). Mereka rela menghamparkan pakaian mereka di jalan dimana keledai yang ditunggangi oleh Tuhan Yesus lewat. Ini menunjukkan penghormatan mereka yang sangat tinggi kepada Tuhan. Di mata Tuhan justru hal itu sia-sia, sebab mereka tidak memahami maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia.

Hal ini sama artinya bahwa mereka tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Pengertian mereka telah menjadi gelap sehingga tidak menangkap maksud anugerah keselamatan yang Tuhan sediakan. Keadaan ini dinyatakan oleh Tuhan Yesus dengan pernyataan: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku (Mat. 15:8). Memang bangsa Israel sedang dalam tekanan yang hebat dari bangsa Roma, mereka membutuhkan pertolongan dari Tuhan untuk dapat membebaskan mereka dari kekuasaan bangsa lain. Mereka sibuk mengingini kemerdekaan secara duniawi. Hal ini telah membutakan mata pengertian mereka terhadap kemerdekaan lain yang Tuhan Yesus perjuangkan. Kemerdekaan yang lebih baik. Inilah yang perlu untuk damai sejahtera mereka. Rupanya tidak ada kesepakatan atau kesamaan pengertian antara orang-orang Israel dengan Tuhan Yesus. Tuhan sudah berkali-kali menjelaskan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau mengerti. Akhirnya mereka harus kehilangan kesempatan yang sangat berharga yang tidak pernah mereka temukan kembali.

Damai sejahtera yang bagaimana yang kita harapkan dari Tuhan Yesus?

Sunday, 11 November 2012

Ia Tidak Pernah Membuang

Menyoroti Yohanes 9:37-39, terdapat dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, kalimat “dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang”. Kata membuang di sini dalam teks aslinya adalah “ekballo” yang dapat diterjemahkan to eject (menyemburkan, mengusir); cast out (membuang). Dalam Alkitab terjemahan lama diterjemahkan, “sekali-kali tiada Aku akan menolak dia”. Teks ini berarti bahwa Tuhan tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya. Kalimat ini harus dilihat dari subyek atau sudut Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan membuang atau menolak orang yang datang kepada-Nya. Kalimat kedua adalah “supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang”. Kata hilang dalam teks ini adalah “apollumi” yang artinya destroy (menghancurkan) atau lose (hilang). Kalimat ini juga harus dilihat dari subyek atau sudut Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan membuat terhilang atau membinasakan orang yang datang kepada-Nya. Jika dua kalimat diatas dilihat dari sudut manusia, maka kesan yang ditimbulkan bisa berbeda. Dari pihak Tuhan, pasti Tuhan tidak akan membuang, menolak atau membinasakan orang yang datang kepada-Nya, tetapi kalau manusianya sendiri tidak mau datang dan “tetap tinggal” di dalam Tuhan, maka Tuhan pun tidak bisa memaksa (Luk. 22:28; 2 Yoh. 1:9). Dalam Lukas 22:28 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa tidak semua setia sampai akhir. Kalimat “tetap tinggal” dalam teks aslinya adalah “diameno” (διαμένω) yang artinya to stay constantly (tetap tinggal terus menerus). Tuhan Yesus berkata: Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (Mat. 24:13). Kata “bertahan” dalam teks aslinya “hupomeinas” yang artinya abide, endure (tetap menetap dan bertahan). Hal ini menunjukkan kesetiaan.

Di kitab Wahyu berulang-ulang Firman Tuhan menganjurkan agar orang percaya setia sampai mati (Why. 2:10; 17:14). Kalau orang tidak setia, maka Tuhan tidak bisa menyelamatkannya. Dalam hal ini Tuhan tidak memaksa seseorang untuk setia. Memaksa seseorang untuk setia berarti Tuhan tidak menciptakan kesetiaan yang sejati. Kesetiaan harus berangkat dari individu. Memaksa bukanlah tindakan Tuhan atau bukan hakekat Tuhan (Mat. 11;28-29; Yoh. 1:12). Di dalam Matius 11:28-29, Tuhan Yesus mendeklarasikan diri sebagai lemah lembut. Tidak sulit untuk mengartikan kelemah lembutan, yaitu pribadi yang tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Bapa menghendaki semua yang diberikan kepada Tuhan Yesus tidak ada yang hilang, tetapi Tuhan sudah memberi kehendak untuk memilih bebas. Pilihan bebas manusia membawa masing-masing kepada hasil akhir keputusannya, selamat atau binasa (2 Ptr. 3:9).

Tuhan tidak pernah membuang seseorang tetapi Tuhan juga tidak memaksa seseorang untuk setia.

Saturday, 10 November 2012

Heko Dan Herkhomai

Jangan berpikir bahwa nasib atau keadaan kekekalan sudah ditentukan oleh Allah. Sama seperti keadaan semasa di dunia ditentukan oleh masing-masing individu, juga keadaan kekal seseorang sangat ditentukan oleh pilihan masing-masing. Bagaimanapun sulit dibantah bahwa keadaan hidup manusia di bumi menentukan nasib kekal seseorang. Kalau keadaan seseorang di bumi ditentukan oleh pilihannya, maka kekekalan juga ditentukan oleh pilihannya juga. Apakah Anda mau hidup suci atau tidak? Itu tergantung Saudara. Apakah Anda mau mengenal kebenaran dan berjalan di dalamnya? itu tergantung Anda juga. Kita perlu memeriksa beberapa ayat yang bisa mengesankan bahwa setiap orang yang dipanggil Tuhan pasti selamat atau tidak bisa menolak anugerah-Nya. Dalam Yohanes 6:37-39 Tuhan Yesus berkata: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”.

Dari beberapa ayat ini terdapat kalimat yang mengesankan bahwa setiap orang yang datang kepada Tuhan pasti selamat atau tidak bisa binasa lagi. Benarkah demikian? Mari kita periksa dengan teliti dan jujur satu-persatu.Terdapat dua kata “datang” dalam teks ini dalam bahasa Indonesia, keduanya berbeda. Kata datang pertama dalam teks aslinya heko (ἥκω) yang bisa berarti have arrived (sudah tiba), be present (hadir), to come upon one unexpectedly (datang tanpa diharapkan). Sedangkan kata “datang” yang kedua adalah erchomai (ἔρχομαι), yang bisa berarti to come from one place to another place (datang dari satu tempat ke tempat yang lain), to appear (menampakkan diri), to come being (menjadi), be established (dibangun), become known (dimengerti) dan to follow (mengikut). Pembedaan dua kata datang dalam teks ini memberi pesan yang sangat kuat bahwa tidak semua yang datang (heko) berarti juga mengikut atau berubah keadaannya (erchomai). Teks tersebut menunjukkan bahwa semua yang dihadirkan pada jaman anugerah pasti diperhadapkan kepada salib. Kalau hanya melihat teks bahasa Indonesia atau bahasa lain yang tidak membedakan dua kata “datang” yang berbeda tersebut, maka akan mengesankan bahwa semua orang yang datang kepada Tuhan Yesus dihadirkan oleh Bapa secara otomatis akan selamat. Ini keliru. Keselamatan juga tergantung respon dan tindakan nyata pribadi setiap individu.

Keselamatan juga tergantung respon dan tindakan nyata pribadi setiap individu.