Adalah tidak jujur kalau kita tidak mengakui bahwa dalam kehidupan orang
non Kristen tidak ada “orang-orang saleh” yang memiliki kualitas yang
luar biasa dibanding dengan manusia kebanyakan. Tentu pengertian saleh
di sini tidak boleh diukur dengan kesalehan standar sempurna bagi umat
Perjanjian Baru. Bila kita mengamati kesalehan Ayub, maka kita menemukan
kesalehan orang non Yahudi dan juga non Kristen yang luar biasa.
Menurut analisa para pakar Perjanjian Lama, Ayub hidup pada jaman
sebelum Abraham, ia bukan termasuk orang Yahudi umat pilihan Allah.
Tentu masih banyak lagi orang-orang yang memiliki kesalehan seperti
mereka. Demikian juga Yitro, mertua Musa. Ia orang Midian yang mengenal
Allah Israel. Ia memuji Tuhan dan mempersembahkan korban bagi Allah
Israel (Kel. 18:9-10;12).
Ditemukan situs kuno bahwa pada jaman
kaisar pertama Cina, orang-orang Cina menyembah Shang Ti dan membuat
korban bakaran. Mengapa ada orang non Yahudi dan bukan orang Kristen
bisa mengenal Allah, bahkan disebut imam? Sebab Tuhan yang menulis
torat-Nya di hati mereka (Rm. 2:12-15). Mereka menjadi orang-orang yang
berprestasi moral yang baik menurut kitab yang mereka miliki, yang akan
menjadi tolok ukur penghakiman bagi mereka (Why. 20:12). Penghakiman di
Matius 25:31-46, diselenggarakan tidak berdasarkan iman, tetapi
berdasarkan perbuatan. Tentu ini berlaku bagi mereka yang tidak pernah
mendengar Injil. Dalam hal ini, ditemukan orang-orang yang memiliki
kasih kepada sesama dalam standar masing-masing, sesuai dengan hukum
yang tertulis dalam “kitab-kitab itu” (Why. 20:12).
Suatu hari
nanti ada banyak orang yang tidak pernah menjadi bangsa Israel dan bukan
orang Kristen dan tidak pernah di “cap” sebagai orang saleh menurut
kacamata orang Yahudi dan orang Kristen, tetapi memasuki kehidupan yang
akan datang. Merekalah orang-orang yang melalui penghakiman akan
diperkenan masuk sebagai masyarakat dalam dunia yang akan datang di
langit baru dan bumi yang baru. Tidak mungkin Tuhan menulis torat-Nya di
dalam hati manusia hanya sekedar untuk pajangan dan tidak berdampak
bagi manusia. Siapa berani menyatakan bahwa Ayub masuk neraka?
Penghakiman yang dialami orang-orang yang dihakimi tentu memberi peluang
seseorang diperkenan Tuhan atau tidak (Rm. 2:6-11). Kalau penghakiman
hanya untuk menunjukkan kesalahan atau untuk menjatuhkan hukuman, maka
tidak perlu ada penghakiman. Namun perlu dicatat di sini bahwa
penghakiman ini bisa berlangsung kalau ada penumpahan darah Yesus (Kis.
4:12). Kalau tidak ada salib, maka semua orang secara otomatis binasa.
Tidak mungkin Allah memberikan Firman-Nya jika bukan untuk kebaikan umat-Nya.