Wednesday, 21 November 2012

Difficult Circumtances

Dewasa ini semakin banyak pembicara-pembicara yang berbicara dalam orientasi mengenai mengelola batin. Hal ini sejajar dengan usaha pengembangan kepribadian, aktualisasi diri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan adanya kesadaran terhadap manusia batiniah yang harus digarap dengan serius. Tentu saja kalau mereka melakukannya dengan baik akan membuat mereka menjadi pribadi-pribadi yang bermoral baik, santun dan mulia di mata masyarakat. Apakah ini berarti sama dengan pembaharuan manusia batiniah seperti yang dimaksud oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:16? Sebenarnya agak mirip atau nyaris, tetapi tetap berbeda. Pembaruan manusia batiniah dalam Kekristenan mengarah atau menunjuk untuk selalu berkeadaan seperti Tuhan Yesus. Untuk mengalami pembaharuan manusia batiniah harus ada perjuangan yang tidak ringan. Paulus menyatakan bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan tersebut (2 Kor. 4:17). Kata penderitaan dalam teks aslinya adalah thlipseos (θλίψεως), yang juga berarti suatu keadaan yang sulit (Difficult circumstances). Sayang sekali, banyak orang menghindari keadaan sulit ini. Mereka hanya mau senang-senang dalam hidup ini tanpa melihat keadaannya di hari esok.

Hal ini sama dengan orang yang sembrono dalam mengelola kesehatan fisik jasmaninya, suatu saat ia harus menuai apa yang telah ditaburnya. Ia harus mengidap kanker, kakinya harus diamputasi karena luka tak tersembuhkan dan diabetes, sungguh suatu ketragisan. Lebih tragis lagi kalau seseorang dibuang dari hadirat Allah selamanya. Oleh sebab itu mulai sekarang harus ada usaha yang serius untuk dapat terhindar dari hal tragis tersebut. Sebagaimana orang tidak memikirkan akibat perbuatannya berkenaan dengan kesehatan tubuh di waktu mendatang demikian pula dengan banyak orang hari ini yang tidak memperdulikan keadaan kekalnya. Ingat! iblis paling bisa menyembunyikan kenyataan kekekalan di balik kubur. Sehingga banyak orang tidak memperdulikan manusia batiniahnya. Mereka mengumbar segala keinginan tanpa memperdulikan keinginan atau kehedak Tuhan yang harus dipahami dan dituruti. Kesenangan-kesenangan sesaat menggantikan kemuliaan kekal. Seperti Esau yang menukar hak kesulungannya. Seharusnya Esau berjuang untuk tidak tergiur dengan kesenangan sesaat yang membuat ia kehilangan hak kesulungan yang begitu mahal. Demikian pula kita, kita harus berjuang untuk memadamkan segala keinginan yang tidak menyukakan hati Allah. Kita bisa hidup tanpa kesenangan-kesenangan tersebut.

Pembaruan manusia batiniah dalam Kekristenan mengarah untuk selalu berkeadaan seperti Tuhan Yesus.

Tuesday, 20 November 2012

Keindahan Manusia Batiniah

Nasihat agar menjaga kesehatan fisik dimaksudkan agar seseorang dapat menikmati hidup jasmaninya di bumi ini dengan nyaman. Oleh karenanya ada filosofi bahwa kesehatan adalah harta termahal dalam hidup. Pada kenyataannya banyak orang menyadari hal ini, sehingga mereka berusaha dengan giat dan serius mengelola kesehatan fisiknya dengan berbagai cara. Bila sakit, orang berani mempertaruhkan apapun yang dimiliki tanpa batas demi kesehatannya. Sejajar atau analogi dengan hal ini, nasihat Firman Tuhan agar kita menabur dalam roh artinya mengelola batiniah manusia agar beroleh hidup yang kekal (Gal. 6:8). Hidup yang kekal artinya hidup yang berkualitas di hadapan Tuhan selama di bumi ini dan nantinya di belakang langit biru diperkenan masuk ke dalam rumah Bapa sebagai anggota keluarga Allah atau menjadi anak-anak Allah di keabadian. Hidup yang berkualitas di hadapan Tuhan berarti hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Untuk ini seseorang harus mengenal Allah dengan benar dan memahami pikiran dan perasaan Allah. Pada kenyataannya tidak banyak orang yang menyadari pentingnya kehidupan batiniah ini sehingga mereka mengabaikan manusia batiniahnya. Paulus menyadari betapa pentingnya manusia batiniahnya sehingga ia berkata bahwa ia tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah semakin merosot, namun manusia batiniah dibaharui dari sehari ke sehari (2Kor. 4:16). Karena lebih pentingnya manusia batiniah sehingga ia tidak mempersoalkan keadaan manusia jasmaniahnya.

Manusia jasmaniah di sini adalah hal makan dan minum serta segala hal yang menyangkut perkara-perkara materi. Mengapa manusia buta terhadap kepentingan yang begitu besar? Sebab mereka hanyut oleh segala kesenangan dunia tanpa mengelola jiwa atau batiniahnya dengan baik. Mereka tidak menyadari bahwa mengabaikan hal ini akan berakibat fatal, yaitu kebinasaan. Selanjutnya Paulus juga menyatakan bahwa ia tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18). Bagaimana dengan kita? Jangan pernah berpikir bahwa anugerah Allah sudah cukup untuk membuat seseorang “selamat”, sehingga tidak perlu ada usaha untuk memahami batiniah manusia yang kompleks dan memperbaharuinya setiap hari. Kadang-kadang usaha untuk mengelola manusia batiniah dianggap sebagai tindakan kurang mempercayai anugerah Allah. Hal ini mengakibatkan banyak orang Kristen yang mentalnya tidak lebih baik dari orang non Kristen. Lebih konyol lagi kalau tenyata tidak sedikit orang-orang Kristen yang kualitas moralnya lebih rendah.

Dandani manusia batiniah kita dengan kebenaran sampai kita didapati berkenan di hadapan-Nya.

Monday, 19 November 2012

Kompleksitas Manusia

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Sejatinya bukan hanya berkenaan dengan fisik manusia yang masih menyimpan misteri yang belum terungkap, tetapi juga terlebih lagi keadaan batiniah yang non fisik manusia. Sebagai manusia yang diberi rasio untuk menganalisa, kita harus memahami selengkap mungkin keadaan fisik atau tubuh jasmani agar bisa mengelolanya dengan

baik. Dari ilmu pengetahuan yang sudah ditemukan mengenai tubuh jasmani manusia, kita tahu betapa menakjubkan tubuh manusia dengan metabolismenya. Tuhan mempercayakan ini kepada kita untuk dirawat dengan sebaik-baiknya. Hukum tabur tuai tetap berlaku dengan ketatnya atas keadaan fisik kita, yaitu apa yang kita konsumsi dan perlakukan dengan tubuh ini menentukan keadaannya. Dalam hal ini hendaknya kita tidak menggantikan tanggung jawab mengelola tubuh

jasmani dengan mujizat Tuhan. Seakan-akan mujizat Tuhan bisa diharapkan untuk menopang kesehatan kita tanpa tanggung jawab pribadi. Paralel dengan hal ini, demikian pula dengan manusia rohani atau batiniah yang non fisik. Sebagai manusia yang diberi rasio untuk menganalisa kita harus memahami selengkap mungkin keadaan manusia rohani atau batiniah yang non fisik. Tuhan pasti memberikan kemampuan kepada manusia untuk memahaminya dengan baik sehingga bisa mengelolanya dengan baik pula.

Dari kebenaran Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab mengenai kehidupan rohani atau batiniah manusia, kita dapat mengerti betapa menakjubkan manusia rohani atau batiniah dengan segala fenomenanya. Dalam hal ini pikiran harus digunakan semaksimal mungkin menggali kebenaran Firman Tuhan untuk memahaminya. Tuhan mempercayakan manusia rohani atau batiniah ini kepada kita untuk dirawat dengan sebaik-baiknya atau tepatnya didewasakan dan disempurnakan. Hukum tabur tuai tetap berlaku atas keadaan rohani atau batiniah, yaitu apa yang kita konsumsi dalam jiwa kita dan perlakuan terhadap manusia batiniah ini akan menentukan keadaannya di kekekalan nanti. Harus diingat bahwa manusia lahiriah adalah sementara tetapi manusia batiniah kita kekal. Hendaknya kita tidak menggantikan tanggung jawab mengelola manusia rohani atau batiniah kita dengan karunia anugerah Tuhan semata-mata, seakan-akan anugerah Tuhan bisa secara otomatis membuat seseorang sempurna atau memiliki manusia batiniah yang baik di mata Tuhan. Firman Tuhan menyatakan bahwa barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu (Gal. 6:8).

Tuhan mempercayakan manusia rohani atau batiniah ini kepada kita untuk didewasakan dan disempurnakan.

Sunday, 18 November 2012

Darash

Malangnya, banyak orang merasa sudah menemukan Tuhan pada hal ia baru menemukan sebuah agama atau kepercayaan. Mereka juga tidak berani menginvestasikan hidupnya secara memadai untuk menemukan Tuhan ini. Firman Tuhan jelas mengatakan: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan di temui (Yes. 55:6). Kata cari dalam teks aslinya adalah “darash’ (שׁרדּ), selain artinya to seek (mencari) juga berarti to resort (mengunjungi) dan menanyakan (enquire) (frequent; sering). Kata ditemui dalam teks aslinya adalah “matsa” (אָצָמ) yang juga berarti dicapai (attain to). Kata matsa mengesankan jelas bahwa untuk menemukan Tuhan atau mencapai Tuhan bukan sesuatu yang dapat atau bisa terjadi secara otomatis. Harus ada usaha keras untuk mencari, mengunjungi dan menanyakan. Banyak orang yang sebenarnya tidak atau belum mencari Tuhan. Mereka hanya menemukan agama Kristen dengan segala kegiatan lahiriahnya, tetapi tidak atau belum menemukan Tuhan. Untuk hal lain banyak orang mengerahkan seluruh potensi hidupnya, tetapi untuk Tuhan, dianggap sebagai tambahan dan Tuhan dicari ala kadarnya. Kalau itu sesuatu seperti uang, bisa diketahui berapa jumlah yang berhasil dicapainya, tetapi kalau Tuhan tidak dapat dihitung. Karena sifatnya pribadi sehingga hal ini tidak mudah dijelaskan, tetapi salah satu indikator bahwa seseorang sungguh-sungguh telah menemukan Tuhan di lihat dari dua ukuran, yang pertama karakter orang tersebut dan kedua kecintaan serta pembelaannya untuk Tuhan.

Karakter yang baik dibuktikan dengan kehidupannya yang tidak melukai siapapun, kecintaan dan pembelaannya bagi Tuhan tanpa batas. Faktanya banyak orang untuk keinginan dan cita-citanya ia bela tanpa batas, tetapi terhadap Tuhan tidak demikian. Itulah sebabnya tiada henti diserukan agar seluruh waktu hidup kita selain untuk memenuhi tugas-tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua, sebagai anak dan lain sebagainya, kita harus mencurahkannya untuk mencari Tuhan. Sudah saatnya kita menjadi “kalap” untuk satu hal ini, sebab inilah harta yang terpenting. Harta yang akan kita nikmati disaat kita hidup dalam kekekalan di langit yang baru dan bumi yang baru. Dalam hal ini seorang pemberita kebenaran menjadi sangat dibutuhkan. Pemberita kebenaran adalah seorang yang mengajarkan prinsip-prinsip utama dan penting mengenai hakekat Allah sesuai dengan Alkitab. Tentu untuk ini seorang pemberita kebenaran harus memahami bagaimana membedah atau meng “eksegesis” Alkitab. Sayangnya dunia hari ini semakin langka orang yang benar-benar menyampaikan kebenaran, sehingga dengan demikian langka pula orang untuk benar-benar menemukan Tuhan.

Karakter yang baik dibuktikan dengan kehidupannya yang tidak melukai siapapun, kecintaan dan pembelaannya bagi Tuhan tanpa batas.

Saturday, 17 November 2012

Tugas Kehidupan Yang Harus Ditunaikan

Tugas kehidupan yang harus dipenuhi setiap insan manusia adalah menemukan Tuhan dalam kehidupannya. Banyak orang tidak tahu apakah tugas kehidupan itu? Mereka memahami tugas kehidupan adalah menjalani hidup seperti orang lain kebanyakan, yaitu: sekolah, kuliah, berkarir, menikah, memiliki berbagai fasilitas, berketurunan, memiliki menantu dan seterusnya. Mereka telah mewarisi cara hidup seperti ini dari nenek moyang dan melihat apa yang dilakukan hampir

semua manusia di sekitarnya (1 Ptr. 1:18). Itulah harta yang dapat dimiliki dan dapat dinikmati.

Setelah mencapai semua itu mereka merasa telah sukses, sebab telah memenuhi tugas kehidupan. Betapa malangnya, sebab sejatinya mereka belum kaya di hadapan Tuhan. Mereka akan pulang ke rumah abadi dalam kemiskinan dan ketelanjangan. Betapa tragisnya ketika harus melepaskan semua yang telah diusahakan itu. Sebagian orang berpikir bahwa semua itu diusahakan untuk anak cucu. Mereka tidak tahu bahwa setiap orang memiliki bagiannya masing-masing yang Allah sediakan. Masing-masing orang harus memperjuangkannya. Tuhan berjanji kalau kita hidup benar, maka anak cucu kita tidak akan menjadi peminta-minta atau pengemis (Mzm. 37:25).

Irama hidup seperti ini telah mendarah daging sampai tidak bisa diubah lagi. Ketika dijelaskan bagaimana seharusnya manusia hidup mencari Tuhan, mereka tidak bisa memahaminya dan tidak akan pernah memahami sampai selamanya. Mereka tidak tahu bahwa kebinasaan menanti mereka di kekekalan. Apalagi kalau mereka menemukan kelakuan pihak gereja yang melakukan kegiatan pelayanan hanya untuk mencari keuntungan materi, mereka semakin mendapat penegasan untuk

tidak perlu berurusan atau serius dengan Tuhan. Mereka adalah gandum yang dituai oleh kuasa kegelapan. Kalau saudara memiliki hidup seperti ini, saudara harus segera bertobat sebelum waktu hidup ini usai dan tidak ada kesempatan lagi. Firman Tuhan berkata agar kita mencari Tuhan selama ia dekat. Kata dekat disini adalah “qarowb” (בוֹרָק) yang artinya dekat dalam arti jarak (distance) tetapi juga berarti waktu (time). Berarti mencari Tuhan selama masih ada waktu. Setiap orang harus memiliki pengalaman yang sangat spesifik, istimewa dan sangat pribadi dengan Tuhan. Pengalaman tersebut pasti akan membentuk karakter seseorang. Oleh karena Tuhan berpribadi mulia, maka orang yang sudah menemukan Tuhan ditandai dengan karakter yang mulia. Jadi, kalau karakter seseorang belum mulia berarti ia belum menemukan Tuhan. Ini berarti ia harus bekerja keras lebih dari apapun yang pernah dia lakukan demi pengalaman riilnya dengan Tuhan.

Tugas kehidupan yang harus dipenuhi setiap insan manusia adalah menemukan Tuhan dalam kehidupannya.

Friday, 16 November 2012

Ketidak Hadiran Seseorang

"Jika kita menunggu orang lain untk memotivasi kita, apakah yang terjadi saat seorang pelatih, seorang atasan atau orang yg menginspirasi lainnya tidak muncul?"

Meski kita tidak bisa hidup sendiri, namun akan ada waktunya di mana orang-orang tertentu tidak bisa selalu menemani / memandu kita dalam melakukan sesuatu.

Apakah ketidakhadiran seseorang menjadi alasan bagi kejatuhan, kekalahan atau hidup yang sembrono?

Saya memutuskan untuk tidak ingin dikalahkan oleh ketidakhadiran orang-orang tertentu, disaat saya paling membutuhkan mereka.

Mengasihi, menghormati & menjaga hubungan dgn semua orang yg menjadi mentor, pembimbing atau bapa rohani kita adalah sebuah hal yg penting. Sampai kpn pun hubungan kita dgn org2 tsb hrs tetap dijaga dgn baik.

Hubungan dengan sesama menempati posisi yg sgt penting di dalam prinsip Kerajaan Allah. Namun, pd sisi yg lain, Allah tdk menghendaki hubungan-hubungan tsb menjadi berhala dalam kehidupan kita.

Krn itu, Allah mengizinkan terjadinya momen-momen di mana para pembimbing kita tdk selalu bisa hadir & menemani kita melalui saat-saat krisis, hanya untk mengembalikan kebergantungan kita pd Allah.

Hal ini bukan berarti bhw kita tidak lagi membutuhkan mereka. Kita akan selalu membutuhkan mereka, & mereka akan membutuhkan kita. Tapi dia atas segalanya, kita semua membutuhkan Allah.

Ketika momen-momen yg terjadi hari-hari ini terasa berbeda (tidak sama spt dulu), kenalilah perubahan yg sedang terjadi & jgn mudah menjadi kecewa dgn apa yg tdk lagi menjadi milik kita & siapa yg tdk lagi hadir di sisi kita.

Apa yg tidak miliki & siapa yg tdk lagi hadir, tdk boleh menjadi alasan untk kita mengalami kejatuhan, kekalahan, & hidup scr sembrono.

Ketidakhadiran seseorg tdk berarti bhw org tsb tdk lagi mengasihi kita.

Mari sikapi hidup scr positif, shg kita selalu dapat mengambil keuntungan dr setiap keadaan yg terjadi di hidup kita!

Manah

Jebakan yang paling ampuh untuk membinasakan banyak orang Kristen adalah selalu menunda apa yang seharusnya untuk dilakukan segera. Penundaan-penundaan tersebut telah membuat momentum-momentum yang berharga yang disediakan Tuhan guna pertumbuhan iman berlalu sia-sia. Padahal setiap momentum ada berkat khusus yang tidak bisa diberikan di waktu yang berbeda. Konyolnya banyak orang berpikir bahwa penundaan tidak memiliki akibat yang signifikan.

Mereka berpikir bahwa penundaan hanya memperlambat berkat yang Allah sediakan, padahal penundaan berarti menghilangkan berkat Tuhan yang seharusnya diterima pada saatnya. Pada suatu saat nanti banyak orang meratapi kesempatan-kesempatan berharga yang telah disia-siakan. Tetapi ratapannya tidak mengembalikan kesempatan-kesempatan tersebut. Sebelum hal itu terjadi, seharusnya seseorang bertobat sekarang ini untuk tidak menunda apa yang seharusnya

dilakukan pada waktunya. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kewaspadaan terhadap diri sendiri yang cenderung atau lebih suka menunda. Hal itu juga dikarenakan mereka terlena oleh segala kegiatan yang tidak mengarahkan orang percaya kepada Kerajaan Allah. Untuk mengatasi hal ini, kita harus menghitung waktu kita setiap hari (Mzm. 90:12). Kata menghitung dalam bahasa aslinya adalah “manah” (הַנָמ) yang juga berarti membagi sesuai dengan urutannya atau bisa berarti pula memisahkan sesuai dengan urutannya.

Menghitung waktu yang tersedia, mengalokasikan dan memprioritaskan waktu untuk mencari Tuhan secara khusus (membaca buku rohani, berdoa, ke pendalaman Alkitab atau Suara kebenaran dan lain sebagainya). Harus diusahakan untuk mengalokasikan waktu yang memadai untuk itu, bukan menyisakan tetapi menyisihkan. Bila hal ini tidak dilakukan segera atau selalu menundanya, maka ia tidak akan pernah melakukannya. Sering terjadi, orang-orang Kristen ini tidak bermaksud mengkhianati Tuhan, tidak bermaksud untuk tidak menyediakan diri mencari Tuhan, tetapi hanya menundanya. Harus diingat bahwa penundaan ini mengakibatkan seseorang kehilangan kesempatan berharga untuk menerima lawatan-Nya. Penundaan ini sama dengan menukar “hak kesulungan” dengan semangkuk makanan. Penundaan-penundaan tersebut sering melukai hati Tuhan, sebab meremehkan hal-hal rohani, juga bisa berarti meremehkan Tuhan sendiri. Akhirnya orang-orang seperti ini tidak lagi dapat menemukan saat mana Tuhan melawat mereka, sebab mereka tidak menjadi peka bilamana Allah melawat mereka. Kalau sudah demikian, iblislah yang akan selalu menggarapnya.

Dalam setiap momentum ada berkat khusus yang tidak bisa diberikan di waktu yang berbeda. Maka jangan menunda!