Sunday, 9 September 2012

Proverbs 18:21

What will your choose? Gratitude or grumbling? One will lead to strength and blessing and the other to weakness and cursing. Beloved, I want you to understand the importance of your choices as you decide what you will think or speak, says the Lord. I have already told you not to worry about anything or be afraid, but to pray with thanksgiving in your heart. I answer your faith and gratitude with a mighty outpouring of My blessings.

Proverbs 18:21 Death and life are in the power of the tongue, And those who love it will eat its fruit.

Serius Pada Fokus

Untuk bertumbuh dalam sikap batiniah yang baik seseorang harus serius fokus. Hal ini tidak merusak kinerja dalam berbagai kegiatan kehidupan seperti studi, berkarir, mencari nafkah atau bisnis, mengurus rumah tangga dan lain sebagainya. Justru melalui berbagai kegiatan tersebut seseorang berlatih untuk memiliki sikap batiniah yang baik di mata Tuhan. Tanpa bertemu dengan manusia lain dan menghadapi berbagai persoalan hidup seseorang tidak akan mengerti bagaimana mengelola sikap batin yang baik. Malahan kondisi yang sulit dalam kehidupan membuat manusia batiniah seseorang terbentuk dengan baik (2 Kor. 4:16-18; 1Ptr. 3:1-4). Kegiatan hidup bukanlah sekedar kegiatan saja (biasanya untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat materi atau duniawi), tetapi kegiatan hidup adalah sekolah menggarap sikap batiniah yang baik di mata Allah. Melalui kegiatan hidup tersebut kita belajar mengasihi sesama manusia (siapapun) dengan tulus, jujur dalam segala hal, rendah hati yang murni, mengupayakan keselamatan orang lain, menopang yang lemah tanpa pamrih, mengenakan kelemah lembutan, tidak serakah dan egois, tidak mencari pujian dan sanjungan, mengontrol emosi, merasa puas dengan apa yang ada, hidup dalam kesederhanaan dan lain sebagainya.

Sikap batiniah yang dimaksud di sini adalah sikap batiniah yang berstandar Kristus atau sesuai dengan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Dalam teks aslinya, pikiran dan perasaan Kristus ini adalah phroneo (φρονέω). Kata ini searti dengan sikap batiniah. Oleh sebab itu harus disadari sepenuhnya bahwa kalau kita datang kepada Tuhan Yesus atau menjadi orang Kristen, ada agenda penting yang harus dimengerti. Agenda itu adalah belajar dari Tuhan Yesus sikap batiniahnya (Mat. 11:28-29). Fokus hidup kita harus ditujukan sepenuhnya kepada hal ini. Inilah yang dimaksud dengan mengumpulkan harta di Sorga. Setiap hari berlimpah mutiara kekayaan kebenaran yang Tuhan sediakan dan Tuhan hendak ajarkan kepada kita. Tetapi oleh karena tidak serius fokus pada hal ini, maka kekayaan tersebut berlalu sia-sia. Ini sebenarnya yang dimaksud dengan menyia-nyiakan keselamatan (Ibr. 2:3). Jangan merasa tidak menyianyiakan keselamatan hanya karena anda bergereja. Ingat, tidak semua orang yang ada di restoran berarti makan. Menyia-nyiakan keselamatan berarti menolak untuk berubah menjadi seperti yang Allah Bapa kehendaki, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Sayang sekali, banyak hal yang telah menyita perhatian kita, sehingga melalui hal ini iblis dapat kesempatan mencuri dan membinasakan.

Malahan kondisi yang sulit dalam kehidupan membuat manusia batiniah seseorang terbentuk dengan baik.

Makna Berbuat Baik

Orang yang haus dan lapar akan kebenaran bukan hanya berusaha mendengar kotbah sebanyak mungkin, mengikuti seminar-seminar dan aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Haus dan lapar akan kebenaran juga merupakan keinginan untuk memiliki sikap hidup dan perilaku yang benar-benar tidak bercela. Untuk itu harus belajar dari hal-hal yang sederhana yang dialami setiap hari. Hal-hal sederhana sebenarnya bukanlah hal yang bernilai kecil atau biasa dianggap murahan. Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan setiap saat adalah fasilitas proses belajar yang sangat menentukan kualitas hidup ini. Dari hal-hal yang sederhana tersebut kita membangun kualitas moral yang baik. Tentu harus membangun kualitas moral yang baik di mata manusia terlebih dahulu kemudian meningkat memiliki kualitas moral yang baik di mata Tuhan.

Ciri dari kualitas moral yang baik di mata manusia adalah menjadi pribadi yang tidak melukai siapapun. Dari hal ini manusia batiniah yang cemerlang seperti Tuhan Yesus dibentuk dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi tidak menarik bagi mereka yang merasa bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik. Dengan kualitas moral yang mereka miliki, mereka merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah yang diperkenan masuk Kerajaan Sorga. Banyak orang yang konsep keselamatannya demikian, memandang rendah orang yang berusaha memiliki moral yang baik. Mereka diejek oleh orang-orang Kristen tersebut dengan ejekan bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan. Orang-orang Kristen picik ini tidak memperhatikan Firman Tuhan, bahwa semua orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Harus diperhatikan, bagaimana Paulus berusaha hidup berkenan kepada Allah (2 Kor. 5:9-10; 4:16). Apakah ini berarti Paulus tidak konsisten dengan ucapannya, bahwa manusia diselamatkan bukan karena perbuatan baik? Kalau perbuatan baik tidak memiliki peran, mengapa Paulus berusaha untuk berkenan kepada-Nya?

Usaha seperti yang dilakukan oleh Paulus ini sudah jarang dilakukan oleh banyak orang Kristen hari ini. Mereka merasa sudah aman dengan statusnya sebagai orang Kristen dan merasa bahwa status itu juga membuat ia secara otomatis menjadi anak Tuhan. Orang-orang Kristen yang memiliki konsep yang salah ini memang tidak menjadi orang jahat, mereka juga belajar memiliki moral yang baik, tetapi tidak berusaha untuk mencapai level kesempurnaan manusia batiniah seperti yang dikehendaki oleh Allah. Mereka cenderung merasa puas dengan moral baik yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan orang yang sudah lama menjadi Kristen karena tradisi.

Ciri dari kualitas moral yang baik adalah menjadi pribadi yang tidak melukai siapapun.

Friday, 7 September 2012

Harus Lebih Unggul

Dalam berbagai aliran agama dan filosofi kita temukan banyak orang berupaya untuk mengolah batin supaya memiliki hidup yang berkualitas. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk itu, dan kenyataannya mereka bisa mencapai pengalaman-pengalaman batiniah yang baik sampai memukau manusia lain. Beberapa filosofinya tersebut antara lain: berusaha berlaku sejujur-jujurnya dalam segala hal, berusaha menolong sesama yang berkekurangan, beramal, berusaha tulus kepada semua orang dan rendah hati, menjaga perkataan, kesetiaan memegang janji, berusaha hidup bersahaja, tidak menikah demi supaya menjaga kesucian, mengalah terhadap orang-orang yang memusuhinya, tidak membunuh mahkluk hidup, berpuasa untuk menyucikan jiwa, berusaha berpikir bersih, berusaha tidak terikat dengan dunia ini, mereka sengaja hidup dalam kemiskinan dan lain sebagainya. Usaha-usaha tersebut bisa dikatakan mengelola batin, juga disebut pertarakan. Walaupun tidak semua benar, tetapi sebagian besar filosofi itu membuat mereka memiliki hidup yang berkualitas lebih dari pada mereka yang tidak mengolah batin.

Di lain pihak banyak orang Kristen yang meyakini dan merasa bahwa keselamatan karena anugerah, bukan karena perbuatan baik, maka tidak ada usaha yang serius untuk mengolah batin. Sehingga mereka tidak pernah mengenal bagaimana bergumul untuk memiliki batin yang benar. Sebagai akibatnya, terdapat fakta banyak orang Kristen yang kualitas moralnya jauh lebih rendah dari orang non Kristen. Tetapi mereka merasa bahwa itu bukan masalah sama sekali sebab menurut mereka keselamatan bukan karena perbuatan baik. Betapa bodohnya pikiran ini. Memang keselamatan bukan karena perbuatan baik, tetapi kalau seseorang masuk dalam proses keselamatan, maka ia harus bertumbuh dalam kualitas diri yang mengungguli manusia lain. Memahami kebenaran Allah adalah hal yang mutlak, tetapi sementara belajar kebenaran Firman, kita harus berusaha memiliki sikap batiniah yang baik. Sulitlah diajar untuk mengelola batin kalau seseorang belum melangkah untuk berusaha memahami. Ketika seseorang berusaha untuk memiliki sikap batiniah yang baik maka ia baru mengerti pergumulan mengelola batin itu. Selanjutnya Roh Kudus akan menuntunnya. Perjalanan membangun sikap batiniah yang sempurna ini adalah perjalanan panjang yang tidak pernah berhenti sampai mati. Jadi, hendaknya seseorang tidak merasa sudah puas dengan level yang sudah dicapai. Dan jangan putus asa bila mengalami pengalaman jatuh bangun dan sulitnya membangun sikap batiniah yang baik (Yoh. 16:13).

Seseorang masuk dalam proses keselamatan, maka ia harus bertumbuh dalam kualitas batin yang mengungguli manusia lain.

Thursday, 6 September 2012

Acts 3:19

Take the time necessary to relax and recover from the stress and pressure that you have experienced recently. You will need to come into My presence softly, not coming to do business or to pray and intercede, but coming into My atmosphere where you can thrive spiritually, emotionally, mentally and physically. Come and be refreshed, says the Lord.

Acts 3:19 "Repent therefore and be converted, that your sins may be blotted out, so that times of refreshing may come from the presence of the Lord."

Menerima Anugerah

Panggilan untuk menerima anugerah tidak otomatis membuat seseorang menerima anugerah. Anugerah itu harus diresponi secara benar. Harus diingat bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Penjelasan ini bukan berarti membuat anugerah menjadi kurang berharga tetapi justru menjadi sangat berharga dan tidak murahan. Memahami anugerah harus tepat benar. Anugerah bukan berarti manusia si penerima anugerah tidak memiliki langkah sama sekali untuk meraih anugerah tersebut. Kalau seseorang mendapat suatu hadiah gratis tanpa membayar (anugerah), bukan berarti dia hanya diam saja lalu anugerah datang dengan sendirinya. Ia harus melangkah mengambil hadiah tersebut. Inilah respon tersebut. Jika manusia bisa atau boleh diam saja menerima anugerah, manusia menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab sama sekali. Pola ini bertentangan dengan hakekat Allah dan hakekat manusia. Perjalanan bangsa Israel di padang gurun juga menunjukkan hakekat tersebut. Allah membebaskan mereka, tetapi mereka juga harus bertanggung jawab atas proyek pembebasan tersebut. Bahkan tanggung jawabnya sampai pada titik di mana Allah seakan-akan tidak ikut bertindak, yaitu ketika mereka masuk tanah Kanaan, bangsa Israel harus menaklukkan bangsa-bangsa di Kanaan dengan perang dan secara bertahap.

Di seluruh kitab Perjanjian Baru, kita temukan panggilan untuk menerima anugerah tersebut dalam berbagai bentuk, seperti misalnya panggilan untuk dijadikan murid, harus memikul kuk dan belajar dari Tuhan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, perjuangan untuk masuk pintu yang sesak, meninggalkan segala sesuatu barulah dapat menjadi murid Tuhan, tidak mengasihi nyawa, tidak mengasihi dunia ini dan segala isinya dan lain sebagainya. Semua ini tidak bisa diraih dalam sekejab, harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh masing-masing individu. Kesalahpahaman mengenai hal ini tidak menggerakkan seseorang untuk bertumbuh dalam Tuhan. Mereka hanya menunggu anugerah yang mengerjakan semuanya. Mereka berpikir kalau manusia dituntut responnya maka anugerah tidak lagi menjadi anugerah. Mereka berpikir bahwa keselamatan adalah “only by grace dan only by faith” (hanya oleh anugerah dan hanya oleh iman). Respon manusia tidak dibutuhkan sama sekali. Semua dikerjakan oleh Allah agar manusia tidak bisa sombong. Sejatinya, sekalipun manusia memberikan respon, respon manusia bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai jasa. Jadi, Paulus bisa mengatakan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha kita, maksudnya bahwa manusia mau berbuat sesempurna bagaimanapun jika tanpa salib menjadi percuma.

Anugerah mengandung tanggung jawab. Percaya mengandung resiko.

Penyertaan Allah

"... bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu." -Hagai 2:5c

Penyertaan Allah menghasilkan kualitas kehidupan yg berbeda dlm hidup seseorg. Coba perhatikan kehidupan Abraham, Yusuf, Musa, Yosua, Daud, Daniel & tokoh-tokoh Alkitab lainnya yg mengalami penyertaan Allah.

Peran penyertaan Allah jauh lebih besar dari kemampuan, kepandaian, kekayaan, popularitas & fasilitas yg kita miliki. Tanpa penyertaan Allah, kita tidak dapat menyelesaikan apa yg Allah ingin kita selesaikan.

Penyertaan Allah berkaitan dengan sebuah kata penting, yaitu: TANGGUNG JAWAB.

Coba perhatikan Amanat Agung Tuhan Yesus:

"Krn itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku & baptislah mrk dlm nama Bapa & Anak & Roh Kudus, & ajarlah mrk melakukan sgl sst yg telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku MENYERTAI kamu senantiasa sampai kpd akhir zaman." (Matius 28:19-20)

Ketika kita mengerjakan tanggung jawab kita, maka Allah akan menyertai. Penyertaan Allah tidak bekerja di dalam KEMALASAN. Jika kita tidak melakukan apa-apa maka kita tidak memerlukan penyertaanNYA.

Ketika kita mengerjakan tanggung jawab yg Allah berikan, sekecil apapun kelihatannya tanggungjawab tersebut, kita akan MENGALAMI PENYERTAANNYA.

Setiap hari & setiap saat, Allah selalu menyertai kita anak-anakNya. Walaupun demikian, seringkali kita tidak MENGALAMI PENYERTAANNYA karena tidak berjalan di dalam ketaatan & penyerahan diri kpd Allah. Kita lebih suka mengerjakan apa yang kita inginkan atau menyelesaikan sgl sst dengan 'cara kita' sendiri.

Kerinduan Allah untuk menyertai kita jauh lebih besar dari kerinduan kita untuk mengalami penyertaanNYA.

"Lalu BERTANYALAH Daud kepada TUHAN: "Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?" Jawab TUHAN kepada Daud: "Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila." (1 Samuel 23:2)