Dalam berbagai aliran agama dan filosofi kita temukan banyak orang
berupaya untuk mengolah batin supaya memiliki hidup yang berkualitas.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk itu, dan kenyataannya mereka
bisa mencapai pengalaman-pengalaman batiniah yang baik sampai memukau
manusia lain. Beberapa filosofinya tersebut antara lain: berusaha
berlaku sejujur-jujurnya dalam segala hal, berusaha menolong sesama yang
berkekurangan, beramal, berusaha tulus kepada semua orang dan rendah
hati, menjaga perkataan, kesetiaan memegang janji, berusaha hidup
bersahaja, tidak menikah demi supaya menjaga kesucian, mengalah terhadap
orang-orang yang memusuhinya, tidak membunuh mahkluk hidup, berpuasa
untuk menyucikan jiwa, berusaha berpikir bersih, berusaha tidak terikat
dengan dunia ini, mereka sengaja hidup dalam kemiskinan dan lain
sebagainya. Usaha-usaha tersebut bisa dikatakan mengelola batin, juga
disebut pertarakan. Walaupun tidak semua benar, tetapi sebagian besar
filosofi itu membuat mereka memiliki hidup yang berkualitas lebih dari
pada mereka yang tidak mengolah batin.
Di lain pihak banyak orang
Kristen yang meyakini dan merasa bahwa keselamatan karena anugerah,
bukan karena perbuatan baik, maka tidak ada usaha yang serius untuk
mengolah batin. Sehingga mereka tidak pernah mengenal bagaimana bergumul
untuk memiliki batin yang benar. Sebagai akibatnya, terdapat fakta
banyak orang Kristen yang kualitas moralnya jauh lebih rendah dari orang
non Kristen. Tetapi mereka merasa bahwa itu bukan masalah sama sekali
sebab menurut mereka keselamatan bukan karena perbuatan baik. Betapa
bodohnya pikiran ini. Memang keselamatan bukan karena perbuatan baik,
tetapi kalau seseorang masuk dalam proses keselamatan, maka ia harus
bertumbuh dalam kualitas diri yang mengungguli manusia lain. Memahami
kebenaran Allah adalah hal yang mutlak, tetapi sementara belajar
kebenaran Firman, kita harus berusaha memiliki sikap batiniah yang baik.
Sulitlah diajar untuk mengelola batin kalau seseorang belum melangkah
untuk berusaha memahami. Ketika seseorang berusaha untuk memiliki sikap
batiniah yang baik maka ia baru mengerti pergumulan mengelola batin itu.
Selanjutnya Roh Kudus akan menuntunnya. Perjalanan membangun sikap
batiniah yang sempurna ini adalah perjalanan panjang yang tidak pernah
berhenti sampai mati. Jadi, hendaknya seseorang tidak merasa sudah puas
dengan level yang sudah dicapai. Dan jangan putus asa bila mengalami
pengalaman jatuh bangun dan sulitnya membangun sikap batiniah yang baik
(Yoh. 16:13).
Seseorang masuk dalam proses keselamatan, maka ia harus bertumbuh dalam kualitas batin yang mengungguli manusia lain.