Wednesday, 18 July 2012

Ada di Medan Pertempuran

Dunia ini adalah medan pertempuran yang hebat. Kuasa kegelapan memiliki berbagai manuver yang luar biasa guna menarik sebanyak mungkin manusia untuk menjadi mempelainya. Manuver-manuver tersebut banyak tersebar melalui berbagai media. Dengan cerdiknya kuasa kegelapan merusak pikiran manusia agar tidak bisa lagi mengenal kebenaran. Termasuk di dalamnya banyak orang Kristen. Orang yang pikirannya dibelenggu oleh ilah jaman ini, yaitu materialisme, tidak akan pernah mengenal kebenaran Injil Tuhan, dan mereka tidak pernah akan mengerti keadaan genting ini. Sebenarnya mereka termasuk kelompok orang yang sedang hidup dalam tawanan dan sedang dipersiapkan menjadi mempelai abadi setan. Betapa mengerikan. Tetapi mereka tidak menyadarinya sama sekali.

Lebih mengerikan, iblis pun bisa memakai gereja-gereja tertentu (bukan hanya gereja setan) untuk menyebarkan Injil yang tidak benar. Injil palsu ini diajarkan oleh orang-orang yang sangat berani mengaku dekat dengan Tuhan, atau telah mendapat pesan dan perintah Tuhan. Mereka tidak menyadari ketika mereka mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Injil yang diajarkan Tuhan Yesus, mereka telah menunjukkan kepalsuan mereka. Gelombang besar orang-orang Kristen telah disesatkan dan digiring menuju kegelapan. Mereka merasa sudah memuji dan menyembah Tuhan bahkan sebagai orang istimewa Tuhan, pada hal mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena hendak memanfaatkan-Nya. Mereka menyamakan Tuhan dengan dewa atau ilah orang yang tidak mengenal Allah.

Kita adalah laskar-laskar Kristus yang memiliki tugas untuk menyadarkan mereka yang masih bisa diselamatkan. Dengan cara bagaimanakah kita menyadar­kan mereka? Dengan cara memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan menunjukkan keteladanan hidup yang luar biasa sebagai pengikut-pengikut Kristus. Tentu untuk ini kita harus belajar kebenaran yang tiada henti setiap hari dan berlatih terus mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Sementara itu kita juga harus terus waspada, sebab iblis akan berusaha menjatuhkan kita dan menghentikan laju perjalanan iman kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Satu hal yang harus tetap kita ingat, bahwa kita sedang ada di medan peperangan yang sangat ganas. Kita harus berjuang terus tiada henti atau dikalahkan. Peperangan ini akan terus berlangsung sampai akhir jaman yang sudah tidak lama lagi. Hanya sementara waktu kita menderita, setelah itu kita akan melihat kemuliaan kota Yerusalem, di mana Sang Maharaja kita akan bertahta di negeri yang tak berjaman.

Kewaspadaan di dalam Kristus akan menghindarkan kita dari tipu daya si iblis.

Laskar Kristus Yang Sejati

Dari pengertian yang benar terhadap Injil yang benar, maka seseorang akan dengan rela mempersembahkan hidupnya bagi tugas pelayanan sebagai utusan Kristus. Kelompok ini akan sangat kecil jumlahnya. Sama seperti kalau hanya mau mengikut Tuhan Yesus karena berbagai alasan seperti pada jaman Tuhan Yesus, maka berbondong-bondonglah yang datang. Tetapi untuk berani menyerahkan nyawa dan kehidupan seperti Petrus dan teman-temannya, sangatlah sedikit jumlahnya. Namun sekarang kita tahu betapa beruntungnya Petrus dan teman-temannya diperkenan mengawal pekerjaan-Nya sebagai laskar-laskar Kristus. Pada akhirnya mereka bisa menikmati hidup dengan cara demikian itu seperti seorang laskar yang sangat mencintai kerajaan dan rajanya, sampai pada penghayatan bahwa itulah satu-satunya kehidupan yang bisa dinikmati. Memang kehidupan seperti ini langka sekali dimiliki oleh seseorang, bahkan tidak sedikit rohaniwan yang tidak memahami arti pengorbanan hidup sepenuh bagi Kristus. Pelayanan baginya sebagai sarana untuk menemukan nafkah dan kehidupan bagi dirinya dan keluarganya. Pada dasarnya mereka adalah pegawai-pegawai gereja yang merasa berhak diberi “gaji” sebagai upah dari pekerjaan “pelayanan” gerejani.

Berbeda dengan mereka yang sungguh-sungguh mau menjadi pengikut Kristus. Mereka tidak peduli apakah mereka dianggap sebagai rohaniwan atau tidak. Mereka tidak mempersoalkan jabatan dalam gereja. Mereka sangat mempersoalkan kebenaran yang harus mereka pahami lebih banyak. Biasanya mereka adalah orang-orang yang mengagumi kebenaran Firman dan mempercakapkan tanpa henti. Mereka selalu mencari tempat untuk bisa membela kepentingan pekerjaan Tuhan. Mereka tidak akan perhitungan bagi kepentingan Tuhan, sampai akhirnya nyawa mereka pun akan menjadi taruhannya. Sayang sekali, kelompok ini sangat sedikit jumlahnya, bahkan dari antara mereka yang lulus sekolah Alkitab. Tidak sedikit mereka yang lulus dari sekolah Alkitab pun melayani pekerjaan Tuhan hanya untuk memperoleh “nafkah” di gereja. Karena sedikit sekali bisa diperoleh keteladanan hidup yang sungguh-sungguh sebagai pengikut Kristus, maka tidak banyak orang yang terinspirasi memiliki kehidupan sebagai pejuang-pejuang Kristus yang sejati. Kalau Saudara bisa mendengar kebenaran Injil yang murni dan memi­liki kesempatan menemukan serta melihat kehidupan orang yang menjadi pejuang Kristus yang sejati, tetapi Saudara tidak meneladaninya, ini berarti Saudara menyia-nyiakan anugerah yang sangat berharga.

Masuk dan terlibat di dalam pekerjaan-Nya, berarti kita merespon anugerah panggilan-Nya.

Thursday, 12 July 2012

Standar Wajar Anak Tuhan

Bagaimana posisi kita hari ini? Apa yang menjadi tanggung jawab utama dalam hidup ini, dan perjuangan apakah yang sedang kita kerjakan? Oleh karena terjebak dengan irama kehidupan manusia yang tidak memiliki tanggung jawab sebagai utusan Kristus, maka banyak orang percaya masuk dalam perjuangan yang sama dengan perjuangan manusia pada umumnya. Perjuangan untuk memiliki kehidupan yang normal dan wajar. Standar normal biasanya diukur dari pendidikan, pekerjaan, teman hidup, keturunan, dan lain sebagainya. Padahal manusia memiliki kecenderungan serakah dan tidak pernah akan puas pada suatu standar. Seseorang selalu berusaha memiliki juga apa yang orang lain miliki. Manusia juga cenderung mencari kehormatan dengan segala sesuatu yang bisa dianggap sebagai nilai lebih di mata manusia lain. Sehingga hidupnya masuk dalam lingkaran setan yang membelenggunya sampai tidak akan dapat terlepas. Kalau seseorang sudah terbelenggu dalam lingkaran tersebut, maka ia tidak akan pernah bisa menjadi pengikut Tuhan Yesus. Ditambah lagi dengan pengenalan terhadap Injil yang salah yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Injil dita­warkan sebagai jalan untuk memperoleh kemudahan hidup yaitu berkat-berkat-Nya. Hal ini membuat banyak orang Kristen makin tersesat. Mereka tidak pernah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Pada dasarnya mereka mengikut jalan dunia, sebab apa yang mereka anggap sebagai standar normal itu adalah jalan dunia.

Di tengah-tengah keadaan seperti ini, Roh Kudus masih bekerja di hati orang-orang Kristen yang memiliki nurani yang baik. Mereka berpikir, bahwa kekristenan pasti tidak sederhana, seperti yang dipahamai oleh kebanyakan orang Kristen lainnya. Kebanyakan orang Kristen yang mengaku memiliki Juru Selamat tetapi memiliki kualitas hidup yang tidak berbeda dengan mereka yang tidak memiliki keselamatan. Mulai ada kehausan dalam jiwa. Ada pertanyaan, bagaimanakah Kekristenan yang benar itu? Tuhan akan menjawab kehausan dan pertanyaan tersebut. Masalahnya kemudian adalah, seberapa kita tekun menemu­kan jawabannya. Sebab murid-murid Tuhan Yesus yang selama tiga setengah tahun diajar oleh Tuhan Yesus sendiri belumlah menjadi pengikut yang baik. Dalam hal ini dituntut ketekunan dan gairah yang tinggi tanpa batas. Untuk perkara dunia gairahnya harus dibatasi, tetapi untuk mencari dan menemukan kebenaran haruslah tanpa batas. Kita harus bertumbuh dengan benar dalam pengertian terhadap apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dari hal itu kita akan dapat mengerti tugas yang harus kita teruskan dari Bapa.

Selalu mencari dan memahami kebenaran Firman Tuhan, akan meningkatkan standar kita sebagai anak Tuhan.

Sunday, 8 July 2012

Tidak Berterus Terang

Satu hal yang sangat mengerikan bagi kita adalah “Tuhan tidak berterus terang” atau Tuhan diam seribu bahasa. Dalam Firman Tuhan dikatakan: ”Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Kejahatan yang dimaksudkan di sini bukan sekedar perbuatan yang melanggar moral menurut pandangan manusia pada umumnya, tetapi “tidak melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23). Harus kita perhatikan bahwa mereka yang dienyahkan adalah mereka yang tidak melakukan kehendak Allah Bapa. Apakah yang dimaksud dengan melakukan kehendak Bapa itu? Melakukan kehendak Allah Bapa artinya segala sesuatu yang kita lakukan memuaskan atau menyenangkan hati Bapa, sesuai dengan selera dan rencana-Nya.

Sejatinya pakaian kebesaran keluarga Allah adalah melakukan kehendak Bapa. Ini berarti bahwa orang percaya bukan hanya terpanggil sekedar menjadi orang baik. Kalau ukuran tidak berbuat jahat adalah berbuat baik, maka dengan mudah kita dapat mengukur apakah kita sudah berkenan kepada Allah Bapa atau belum. Tetapi berbuat jahat di sini artinya tidak melakukan kehendak Bapa. Ini berarti ukuran berbuat baik berangkat dari “penilaian Allah Bapa sendiri”. Kalau hari ini Tuhan tidak atau belum berterus terang, maka kita sendiri yang harus aktif serius memperkarakannya, atau mempersoalkan bagaimana keadaan kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Kalau tidak, maka kita ada dalam bahaya yang sangat besar.

Kita harus serius meminta kepada Allah Bapa untuk menyelidiki hati kita. Kalau ternyata kita dipandang belum mengenakan kebesaran seorang anggota keluarga Allah, yaitu belum melakukan kehendak Bapa, kita harus serius mempersoalkannya. Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah kepekaan nurani kita terhadap pikiran dan perasaan Allah. Ini adalah sesuatu yang sangat sulit. Sangat sulit bukan berarti tidak bisa diraih. Pembaharuan pikiran akan membuat kita mengerti kehendak Allah Bapa, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Ini sama artinya dengan memiliki kepekaan untuk mengerti pikiran dan perasaan Allah. Pembaharuan pikiran ini harus berlangsung terus menerus tiada henti sampai kita menutup mata. Jadi, perjalanan hidup untuk mengenakan pakaian kebesaran keluarga Allah adalah pergumulan permanen selama kita hidup dalam dunia ini. Ini adalah kesibukan yang tidak bisa digantikan dengan kesibukan yang lain. Inilah yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Belajar hidup seturut dengan kehendak-Nya akan selalu kita lakukan sepanjang umur hidup kita.

Sedikit Yang Terpilih

Penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah seseorang merasa bahwa ia sudah lahir baru, hal ini membuat orang tersebut tidak perlu berusaha berjuang untuk mengalaminya. Mereka lebih sibuk mendandani manusia lahiriahnya (ini adalah hasrat dari manusia kedagingan) dari pada mendandani manusia Ilahinya. Mereka merasa sudah nyaman dan aman menjadi orang Kristen yang terdaftar dalam suatu keanggotaan gereja tertentu, tetapi mereka tidak mempersoalkan apakah namanya sudah tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba, artinya tercatat sebagai anggota keluarga Allah. Kepada mereka tidak diingatkan bahwa kalau mereka masih sibuk mendandani manusia lahiriahnya (dengan berbagai fasilitas materi) itu berarti gejala bahwa mereka belum menjadi keluarga Allah. Mereka belum mengerti tanggung jawab sebagai orang percaya yang harus mempersiapkan pakaian kebesaran keluarga Allah.

Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk memperhatikan hal ini melalui sebuah perumpamaan seorang raja yang mengadakan pesta (Mat. 22). Ia mengundang semua orang untuk datang dalam pesta yang telah dipersiapkan. Ketika pesta berlangsung ada seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta. Raja itu menyuruh mengusir tamu tersebut dan membuangnya ke dalam kegelapan abadi. Kemudian Tuhan mengakhiri perumpamaan tersebut dengan pernyataan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Dalam hal ini jelas sekali bahwa keterpilihan seseorang juga ditentukan oleh respon terhadap anugerah yang diberikan. Inilah anugerah yang bertanggung jawab.

Pakaian pesta menunjukkan kelayakan untuk menjadi anggota keluarga Allah. Hal ini harus diperjuangkan oleh setiap orang percaya dengan sangat serius, lebih dari memperjuangkan hal-hal lain dalam kehidupan ini. Kalau seseorang memperjuangkan sesuatu lebih dari perjuangannya mempersiapkan pakaian kebesaran sebagai anggota keluarga Allah, hal itu menunjukkan bahwa ia tidak menghargai kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Allah. Ia memandang dunia ini lebih penting dan berharga. Inilah orang-orang yang dikatakan oleh Firman Tuhan sebagai pejinah (moikalis. Yun. μοιχαλίς) atau orang-orang yang tidak setia. Ia bukannya menjadi keluarga Allah tetapi musuh-Nya (Mat. 4:4). Tidak sedikit musuh-musuh Allah dalam gereja, tanpa mereka sadari bahwa dirinya adalah musuh Allah. Ironisnya, mereka dinyatakan sebagai “pemenang-pemenang”. Seakan-akan mereka telah menjadi orang setia kepada Tuhan sampai akhir. Pada hal, tidak perlu menunggu akhirnya, sekarang saja mereka tidak menunjukkan sebagai umat yang setia.

Berjalan dengan Tuhan, berarti kita menjaga dan belajar untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuesday, 3 July 2012

Romans 16:19-20

You have been made kings and priests to rule and reign with Me in My kingdom. I have given you the authority to rise up in the face of adversity and gain the victory. Exercise your authority, and I will put the enemy under your feet. Don't let the devil get you down, says the Lord. Be strong, courageous, and triumphant.

Romans 16:19-20
For your obedience has become known to all. Therefore I am glad on your behalf; but I want you to be wise in what is good, and simple concerning evil. And the God of peace will crush Satan under your feet shortly. The grace of our Lord Jesus Christ be with you. Amen.

Mempercayai PosisiNya

Walaupun dalam Alkitab kita tidak menemukan perintah untuk merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus, namun tidak ada salahnya kalau orang percaya merayakannya. Sebab bagaimanapun peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga menunjukkan, yaitu dari mana Ia sebelumnya berasal sebagai Allah Anak. Di dalamnya terkandung suatu pelajaran yang sangat mahal, kalau tidak, maka kisah tersebut tidak perlu dituliskan. Tuhan Yesus naik ke Sorga bukan untuk berwisata, tetapi Ia kembali ke tempat dari mana Ia berasal sebelumnya. Ia akan kembali lagi ke bumi suatu hari nanti, Ia akan menjemput orang percaya di awan-awan permai untuk membawa mereka ke langit dan bumi yang baru.

Kenaikan-Nya ke sorga hendak menunjukkan bahwa Ia adalah Allah Anak yang dapat mengatasi langit dan bumi. Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia berkata, bahwa segala kuasa di Sorga dan di bumi ada di dalam tangan-Nya. Kenaikan-Nya ke sorga membuktikan kehebatan, keperkasaan dan kuasa-Nya. Tentu kalau Ia datang kembali tidak lagi sebagai bayi kecil yang tidak berdaya, teta­pi sebagai Raja Mahamulia, yang semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Alkitab menuliskan, bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah (Mrk. 16:19). Duduk disebelah kanan artinya bahwa Ia menerima kemuliaan dan kuasa dalam pemerintahan. Ini berarti Ia aktif bekerja dan memerintah dunia dan sorga. Ia bukanlah Tuhan yang jauh dan pasif, Ia adalah Tuhan yang dekat dan aktif. Ia adalah penguasa yang aktif bekerja dalam menyelenggarakan pemerintahan-Nya. Kalau Tuhan sekarang duduk sebagai Penguasa, hal ini seharusnya membuat kita merasa tenang dan nyaman di tengah-tengah ketidak pastian dalam kehidupan ini.

Tanpa sadar banyak orang sering menganggap dan merasa bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang pasif. Ia ada nun jauh di sana yang tidak terjangkau, sehingga kita tidak mempercayai kuasa dan kehadiran-Nya. Padahal jika kita percaya dan bergantung kepada-Nya, kepercayaan kita terjamin, sebab yang kita percayai adalah Tuhan yang aktif memerintah. Jika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, berarti juga memiliki dan menjadikan Dia sebagai Rajanya. Sudah seharusnya kita terbebas dari rasa cemas, takut, kuatir dan perasaan negatif lainnya. Kekuatiran berarti ketidakpercayaan terhadap posisi-Nya. Justru hal tersebut semakin menjadikan kita bersemangat dalam hidup serta pengiringan kita kepada Tuhan. Jika Allah berada di pihak kita, siapakah lawan kita?

Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga membuktikan, bahwa segala kuasa di Sorga dan di bumi ada dalam tangan-Nya.